Pascasarjana UINSU Gelar Diskusi “Tradisi Jelang Puasa: Rupa Kesatuan Agama dan Budaya di Indonesia

Medan — Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara kembali menghadirkan ruang akademik yang reflektif melalui kegiatan diskusi bertajuk “Tradisi Jelang Puasa: Rupa Kesatuan Agama dan Budaya di Indonesia”. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Jumat, 13 Februari 2026, mulai pukul 15.30 WIB hingga selesai.

Diskusi ini menghadirkan narasumber M. Yasser Arafat, dosen dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang memiliki kepakaran dalam kajian Islam dan budaya serta antropologi agama. Dalam pemaparannya, ia mengulas secara komprehensif bagaimana masyarakat Muslim di berbagai wilayah Nusantara menyambut bulan Ramadan melalui ragam tradisi lokal.

Berbagai praktik budaya seperti nyadran, padusan, meugang, megibung, hingga balimau menjadi contoh konkret dari akulturasi antara nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal. Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ritual simbolik, tetapi juga mencerminkan nilai penyucian diri, penguatan solidaritas sosial, serta penghormatan terhadap leluhur dan lingkungan sosial.

Menurut pemateri, fenomena ini menunjukkan bahwa Islam di Indonesia tumbuh secara kontekstual, beradaptasi dengan budaya setempat tanpa kehilangan esensi ajarannya. “Tradisi jelang puasa merupakan representasi nyata dari dialog antara agama dan budaya, yang melahirkan identitas keislaman khas Nusantara,” ungkapnya dalam sesi diskusi.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Pascasarjana UINSU dalam memperkuat literasi keislaman yang moderat, inklusif, dan berbasis pada realitas sosial masyarakat Indonesia. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan dalam sesi tanya jawab yang membahas dinamika keberagamaan kontemporer serta relevansi tradisi lokal di tengah arus modernisasi.

Melalui forum ini, Pascasarjana UINSU menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan keilmuan yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pada pemahaman kontekstual terhadap praktik keagamaan di masyarakat. Diskusi ini diharapkan mampu memperkaya perspektif akademik sekaligus memperkuat harmoni antara agama dan budaya di Indonesia.