
MEDAN, PASCASARJANA UINSU – Guna membumikan hasil penelitian akademik tingkat doktoral agar dapat diakses oleh masyarakat luas, Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara bekerja sama dengan Perpustakaan UINSU menggelar program Bedah Disertasi dalam program podcast “Ngobrol Pintar” (Segmen Doktor, Eps. 9). Link Podcastnya
Acara yang dipandu oleh Ihsan Satri Azhar ini menghadirkan Dr. H. Zulfahmi Lubis, Lc, M.Ag, Sekretaris Program Studi S3 Studi Islam Pascasarjana UINSU. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Zulfahmi membedah secara filosofis dan aplikatif hasil riset disertasinya yang mendalam bertajuk “Intuisi sebagai Sumber Pengetahuan dan Relevansinya terhadap Pendidikan Islam menurut Abdul Wahab Assya’rani”.
Sufi Healing & Tasawuf Psikoterapi: Solusi Krisis Mental Modern dari UINSU
Di awal dialog, Dr. Zulfahmi membuka keterkaitan erat antara keahlian praktisnya di bidang hipnoterapi dengan disiplin keilmuan yang dikembangkan di kampus. Beliau mengungkapkan bahwa Program Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana UINSU memiliki salah satu konsentrasi keunggulan yang sangat spesifik dan prospektif, yaitu Tasawuf Psikoterapi.
Konsentrasi ini mengusung metode Sufi Healing, sebuah sistem pengobatan dan pemulihan kejiwaan yang memanfaatkan pendekatan integratif ilmu tasawuf. Sufi Healing hadir sebagai jawaban konkret atas fenomena klinis masyarakat modern yang kian rentan dihantam stres, kecemasan akut, hingga depresi akibat tekanan kerja dan target kehidupan yang eksesif. Dr. Zulfahmi menggarisbawahi bahwa sementara dunia Barat telah mengompilasi pendekatan kejiwaan sejenis melalui institusi formal parapsikologi, di Indonesia gerakan klinis berbasis spiritualitas Islam ini masih sangat jarang.
“Khazanah tasawuf Islam sebenarnya menyimpan modalitas penyembuhan jiwa yang sangat kaya melalui Sufi Healing. Pascasarjana UINSU melalui konsentrasi Tasawuf Psikoterapi berkomitmen menjadi perintis dalam mengintegrasikan pengobatan kejiwaan dengan pendekatan tasawuf guna menyelesaikan berbagai problematika mental manusia modern,” tegas Sekretaris Prodi S3 tersebut.
Dekonstruksi Intuisi dan Struktur Epistemologi Islam
Memasuki inti bedah disertasi, Dr. Zulfahmi menjelaskan bahwa istilah “intuisi” dalam diskursus filsafat Barat sejatinya memiliki titik temu dengan konsep ilham atau ilmu laduni dalam tradisi intelektual Islam. Penelitiannya difokuskan pada pemikiran Syekh Abdul Wahab Assya’rani, seorang ulama besar abad klasik yang dikenal multidisipliner menguasai ilmu hadis, fikih, ilmu kalam, falak, hingga kedokteran. Kedalaman keilmuan sang Syekh merupakan bukti nyata dari berfungsinya intuisi spiritual yang tajam.
Dr. Zulfahmi memetakan bahwa epistemologi Islam memiliki bangunan yang jauh lebih lengkap dibanding epistemologi Barat, karena menempatkan empat pilar sumber pengetahuan beserta metodologinya secara seimbang:
- Al-Qur’an dan Hadis: Sumber kebenaran sejati yang diakses menggunakan Metode Bayani (tekstual dan eksplanatif).
- Logika Akal: Sumber penalaran rasional yang diakses melalui Metode Burhani atau falsafi.
- Empiris (Alam Nyata): Sumber observasi indrawi yang diakses melalui Metode Tajribi (eksperimental).
- Hati (Qolbun): Sumber pengetahuan batiniah yang diakses melalui Metode Irfani (intuisi/ilham).
Beliau memaparkan bahwa jika seorang pencari ilmu mampu mensinergikan keempat metode ini, maka ia berpotensi menjadi ilmuwan besar yang multidisipliner. Kecepatan berpikir dan menulis ulama terdahulu seperti Imam Jalaluddin Assuyuti yang melahirkan ribuan karya di usia yang relatif singkat demi menyelamatkan warisan intelektual Islam pasca-invasi Mongol di Baghdad merupakan contoh sahih dari hasil pencapaian ilmu yang bersumber langsung dari Allah (ilmu mukasab/kasbi). Begitu pula dengan guru dari Syekh Abdul Wahab Assya’rani, yaitu Syekh Ali Alkhawas; seorang yang ummi (tidak bisa membaca-tulis huruf) namun atas izin Allah menguasai berbagai bahasa kuno dan dunia seperti Ibrani, Suryani, dan Latin murni lewat jalur intuisi.
Metodologi Riyadah: Konstruksi Mengaktifkan Indra Keenam Spiritual
Bagian menarik dari disertasi Dr. Zulfahmi adalah dikupasnya tahapan baku (riyadah) untuk mengaktifkan dan mengasah intuisi batin menurut pandangan Syekh Abdul Wahab Assya’rani:
- Mujahadah: Langkah awal berupa pembersihan jiwa secara radikal dari sifat-sifat tercela (penyakit hati). Dr. Zulfahmi mengutip kaidah batin: “Nurullah la yuhda lil ‘ashi” Cahaya Allah tidak akan sudi mampir ke dalam hati yang kotor.
- Dawamuz Zikir: Mengondisikan hati agar terus-menerus mengingat Allah. Beliau menekankan pentingnya proses zikir dasar (Lailahaillallah) yang ditalkinkan (dibimbing) oleh seorang guru spiritual (mursyid) agar frekuensi spiritual hati lebih cepat hidup.
- Dawamul Muraqabah: Latihan batin untuk senantiasa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah SWT. Beliau memberikan analogi tingkat fokus muraqabah seperti seekor kucing yang sedang mengintai tikus, di mana setiap sel tubuh dan batinnya terpusat total pada satu titik.
Ketika tingkatan muraqabah ini istikamah, maka sekat pembatas batin akan runtuh dan masuk ke fase Mukasyafah (penyingkapan tabir gaib). Dr. Zulfahmi mendetailkan bentuk-bentuk ilham yang didapatkan pada fase ini:
- Maknawiah Spontan: Pemahaman ilmu keagamaan atau realitas yang tiba-tiba hadir di dalam hati tanpa melalui proses merenung atau berpikir keras.
- Penyaksian Visual (Vision): Gambaran visual batiniah mengenai peristiwa nyata yang akan terjadi di masa depan.
- Tulisan Emas Batin: Fenomena yang sering dialami Syekh Abdul Wahab Assya’rani, di mana ia diperlihatkan lembaran tulisan bertinta emas yang mengajarkan suatu ilmu sebelum akhirnya tulisan itu sirna.
- Auditori (Sima’): Kemampuan menangkap pesan ketuhanan dari fenomena suara alam, seperti gemuruh petir atau suara sekitar yang ditangkap oleh hati yang hidup sebagai isyarat atau petunjuk aktif dari Allah SWT.
Relevansi Aktual terhadap Kurikulum Pendidikan Islam
Sebagai penutup, Dr. Zulfahmi menegaskan bahwa rekonstruksi intuisi ini memiliki relevansi strategis terhadap arah haluan Pendidikan Islam modern. Pendidikan tidak boleh terjebak pada sekadar transfer pengetahuan kognitif (transfer of knowledge), melainkan harus menyentuh ranah afektif-spiritual untuk mencetak Insan Kamil (manusia paripurna).
“Apabila sistem pendidikan mampu menghidupkan intuisi batin anak didik sehingga mereka dekat dengan Allah, maka mustahil anak didik tersebut menjadi pribadi yang bodoh, karena Allah sendiri yang menjadi pengajarnya (mendidik lewat jalur kewalian),” jelasnya.
Secara psikologis, integrasi intuisi dalam kurikulum akan melahirkan output pendidikan yang matang secara emosional dan spiritual. Generasi yang dihasilkan akan memiliki ketahanan mental yang tinggi, tidak mudah dihinggapi kecemasan eksistensial, tidak takut menghadapi masa depan, serta memiliki benteng akhlak yang kokoh untuk menolak segala bentuk tindakan menyimpang seperti korupsi karena batin mereka senantiasa merasa diawasi oleh Zat Yang Maha Kuat.
Mari Bergabung dengan Program Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana UINSU!
