
MEDAN – Sebuah terobosan ilmiah dalam studi antropologi agama dan identitas budaya berhasil dipublikasikan oleh Ketua Program Studi S2 Studi Islam Pascasarjana UINSU Medan, Dr. Jufri Naldo, M.A. Penelitian mendalam yang bertajuk “Becoming a Christian Minangkabau in Indonesia: The Struggle Between Identity and Religious in the Land of Migration” resmi diterbitkan di Jurnal Ilmiah Peuradeun (Vol. 14, No. 2, 2026), salah satu jurnal bereputasi tinggi di Indonesia.
Riset ini mengupas tuntas realitas sosiologis yang sangat sensitif namun krusial: dinamika kehidupan para perantau beretnis Minangkabau yang memutuskan untuk berpindah keyakinan menjadi pemeluk agama Kristen.
Melawan Stigma, Menegosiasikan Identitas
Masyarakat Minangkabau secara historis dan kultural melekat erat dengan filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (Adat bersendikan hukum Islam, hukum Islam bersendikan Al-Qur’an). Melalui filosofi ini, identitas Minang kerap dianggap identik mutlak dengan Islam. Namun, riset Dr. Jufri Naldo bersama tim penelitinya mendobrak batasan tersebut dengan meneliti realitas para konverto (pindah agama) di berbagai wilayah perantauan Indonesia, mulai dari Yogyakarta, Jakarta, Medan, Ambon, hingga Makassar.
“Melalui pendekatan kualitatif dan wawancara mendalam, kami menemukan bahwa konversi agama terjadi melalui jalur yang beragam, seperti pernikahan beda agama, keterikatan emosional, keyakinan pribadi, hingga interaksi panjang di lingkungan yang plural,” ungkap Dr. Jufri Naldo dalam keterangannya.
Penelitian ini menyoroti bahwa meski para pelaku konversi menghadapi penolakan keluarga dan pengucilan sosial dengan kadar yang berbeda-beda, mereka secara konsisten tetap mempertahankan ikatan kekerabatan (kinship ties), kelekatan budaya, dan rasa kepemilikan yang kuat terhadap komunitas Minangkabau.
Lahirnya Konsep “New Minangkabau”
Hal yang paling luar biasa dari riset ini adalah lahirnya konseptualisasi baru yang disebut “New Minangkabau” (Minangkabau Baru). Penelitian Dr. Jufri Naldo membuktikan secara empiris bahwa transformasi religius yang radikal tidak serta-merta melunturkan identitas etnis seseorang. Sebaliknya, hal ini memicu proses negosiasi identitas dan adaptasi sosial yang terus berjalan.
Riset ini memberikan kontribusi teoritis yang sangat signifikan bagi perkembangan antropologi agama di Indonesia. Dr. Jufri berhasil memperlihatkan sisi lain dari pluralisme Indonesia, di mana rasa memiliki terhadap kebudayaan asal (cultural belonging) ternyata mampu bertahan dan melampaui sekat-sekat transformasi keyakinan agama.
Kebanggaan Akademik
Publikasi ilmiah di Jurnal Ilmiah Peuradeun ini tidak hanya menjadi capaian personal yang luar biasa bagi Dr. Jufri Naldo, M.A., tetapi juga mempertegas komitmen Program Studi S2 Studi Islam dalam melahirkan riset-riset yang berani, objektif, dan berdampak luas bagi pemahaman toleransi serta dinamika sosial-keagamaan di Indonesia modern.
Riset ini diharapkan dapat menjadi rujukan penting bagi para akademisi, sosiolog, dan pengambil kebijakan dalam melihat hubungan antara agama, adat, dan identitas di tengah masyarakat Indonesia yang semakin plural.
