

MEDAN – Komunitas Pecinta Ilmu, Pengetahuan & Intelektual “Kopi Pahit” sukses menyelenggarakan diskusi publik Markobar-60 pada Rabu (20/5) di Coffee Shop Koperasi UINSU. Diskusi interaktif kali ini mengupas tuntas masa depan akademis melalui tema “Apa, Bagaimana dan Hendak ke mana Magister Teknologi Pendidikan UIN Sumatera Utara Medan”.
Acara ini menjadi ruang dialektika yang sangat berbobot karena menghadirkan sudut pandang komprehensif dari para pakar, guru besar, serta mendapat atensi langsung dari unsur pimpinan pascasarjana.
Sumbangsih Pemikiran para Narasumber dan Guru Besar
Sebagai pemantik awal, Dr. Usiono, M.A. selaku Presiden Kopi Pahit sekaligus penyelenggara, menekankan pentingnya wadah alternatif seperti Markobar untuk mengkritisi dan mengawal arah pendidikan tinggi. Ia menyatakan bahwa Program Studi Magister Teknologi Pendidikan (Tekpend) UINSU harus adaptif dan tidak boleh terjebak dalam rutinitas birokrasi, melainkan harus terus melahirkan inovasi pembelajaran yang membumi.
Sorotan tajam juga datang dari Prof. Dr. Mardianto, M.Pd., guru besar yang pakar di bidang pendidikan. Beliau menggarisbawahi bahwa filosofi dasar “Teknologi Pendidikan” bukan sekadar tentang penggunaan gawai atau aplikasi di kelas, melainkan tentang bagaimana merkayasa sistem pembelajaran agar proses transfer ilmu menjadi lebih efektif, inklusif, dan humanis. Menurutnya, Tekpend UINSU harus memiliki distingsi (ciri khas) yang kuat berbasis nilai-nilai keislaman yang dipadukan dengan tren global.
Selanjutnya, Dr. Muhammad Irwan Padli Nasution, ST, MM, M.Kom. (Kepala WUR UIN Sumatera Utara) memberikan pandangan dari aspek integrasi teknologi informasi dan kelembagaan. Di era kecerdasan buatan (AI) ini, kurikulum Tekpend harus linier dengan perkembangan industri digital agar lulusannya mampu merancang sistem instruksional modern yang kompetitif.
Dari kacamata praktisi lapangan, Dr. Supriatin, M.A. yang mewakili MGMP PAI SMK Sumatera Utara, memaparkan tantangan nyata di sekolah-sekolah saat ini. Ia menitipkan harapan agar Magister Teknologi Pendidikan UINSU mampu menjembatani jarak (gap) antara teori-teori akademis di kampus dengan kebutuhan riil metodologi pengajaran inovatif yang dibutuhkan oleh para guru di daerah.
Dukungan dan Apresiasi dari Pihak Pascasarjana
Diskusi strategis mengenai masa depan program studi ini mendapat sambutan hangat dari manajemen pascasarjana. Hadir sebagai undangan resmi, Wakil Direktur Pascasarjana UINSU, Prof. Dr. Salamuddin, M.A., yang hadir langsung mewakili Direktur Pascasarjana UINSU, Prof. Dr. Nurussakinah Daulay, M.Psi.
Dalam arahannya, Prof. Dr. Salamuddin, M.A. menyampaikan apresiasi mendalam kepada Komunitas Kopi Pahit serta para guru besar yang hadir. Beliau menegaskan bahwa masukan, gagasan, dan pemikiran kritis dari jalannya Markobar-60 ini akan menjadi catatan strategis bagi manajemen Pascasarjana UINSU dalam melakukan evaluasi, pengembangan kurikulum, serta penguatan mutu Magister Teknologi Pendidikan ke depan.
Dinamika Dialog dan Tanya Jawab Interaktif
Setelah pemaparan dari para narasumber, sesi Markobar-60 dilanjutkan dengan dialog interaktif yang berlangsung hangat dan kritis antara audiens dan para tokoh:
- Pertanyaan dari Perwakilan Mahasiswa Magister:“Bagaimana kurikulum Magister Teknologi Pendidikan UINSU saat ini mempersiapkan mahasiswanya agar tidak hanya paham teori teknologi, tetapi juga siap menghadapi digitalisasi sekolah yang sangat dinamis di Sumatera Utara?”
- Tanggapan dari Dr. Muhammad Irwan Padli Nasution, ST, MM, M.Kom.:“Kita di UINSU terus mendorong integrasi yang kuat antara teknologi informasi dengan kurikulum pendidikan. Ke depan, mahasiswa tidak hanya diajarkan mengoperasikan teknologi yang sudah ada, tetapi didorong untuk mampu menganalisis kegunaan teknologi serta merancang platform pembelajaran mandiri.”
- Pertanyaan dari Alumni/Praktisi Pendidikan:“Melihat realitas di lapangan, banyak sekolah yang infrastruktur digitalnya minim. Bagaimana lulusan Teknologi Pendidikan bisa menerapkan ilmunya di wilayah-wilayah terpencil seperti itu?”
- Jawaban dari Prof. Dr. Mardianto, M.Pd.:“Inilah mengapa saya katakan teknologi itu bukan cuma alat elektronik. Ketika fasilitas digital minim, lulusan kita harus mampu mendesain kurikulum darurat, modul yang kreatif, atau memanipulasi lingkungan sekitar menjadi media belajar yang efektif. Teknologi pendidikan adalah tentang ‘cara berpikir’ pemecahan masalah pembelajaran, bukan sekadar colokan listrik.”
- Tanggapan dan Penegasan dari Wakil Direktur (Prof. Dr. Salamuddin, M.A.):“Menyambung hal itu, selaku pihak manajemen Pascasarjana, mewakili Direktur, kami menegaskan bahwa masukan-masukan bernilai ini akan kami bawa ke rapat prodi. Pengembangan kompetensi lulusan lewat sertifikasi keahlian desain instruksional memang menjadi salah satu proyeksi jangka panjang kita untuk menjawab tantangan zaman tersebut.”
- Tanggapan Penutup dari Dr. Usiono, M.A.:“Kopi Pahit berkomitmen mengawal ini. Dokumen rekomendasi pemikiran dari seluruh tokoh dan guru besar dalam Markobar-60 ini akan kami susun rapi dan diserahkan secara resmi kepada pihak Pascasarjana sebagai kontribusi nyata mitra kritis kampus.”
Diskusi yang berlangsung produktif dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan plakat apresiasi secara simbolis dalam suasana penuh keakraban intelektual.

