
MEDAN – Dalam upaya menghadirkan ruang diskursus alternatif yang menggabungkan tradisi intelektual dan pelestarian budaya, Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara sukses menyelenggarakan acara “SERUMPUN COFFEE TALK Edisi #1” pada Selasa (15/09/2026).
Bertempat di Teras Literasi Pascasarjana UIN Sumatera Utara, acara perdana ini mengangkat tema yang sangat dekat dengan masyarakat, yakni “Memori Serumpun: Melayu, Musik Pop Malaysia, dan Ingatan Kolektif Indonesia”. Berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, kegiatan ini berhasil menarik antusiasme sivitas akademika dan budayawan yang hadir.
Direktur Pascasarjana UIN SU, Prof. Dr. Nurusakinah Daulyah, M.Psi., dalam penyampaian singkatnya menyambut baik inisiatif lahirnya program ini. Beliau menekankan bahwa “Serumpun Coffee Talk” dirancang tidak sekadar sebagai ajang kumpul minum kopi, melainkan sebagai wadah edukasi dan literasi kultural yang esensial.
“Melalui Teras Literasi ini, kita ingin membangun ekosistem akademik yang cair namun berbobot. Tema memori serumpun ini sangat penting untuk kita diskusikan guna merawat ingatan historis, serta mempererat pemahaman tentang identitas budaya Nusantara melalui pendekatan populer yang mudah diterima,” tutur Prof. Nurusakinah.
Dipandu dengan sangat apik oleh Dr. Faisal Riza selaku moderator, sesi diskusi berjalan interaktif, hangat, dan sarat akan gelak tawa nostalgia. Keseruan perbincangan ini benar-benar menghidupkan tagline acara, yakni “Good Coffee. Great Conversation. Shared Memories”.
Diskusi utama diisi oleh dua narasumber kompeten yang mengupas tuntas pengaruh kultur pop negeri jiran dari dua kacamata berbeda: akademis dan industri kreatif.
Associate Prof. Ade Parlaungan Nasution, PhD, yang merupakan Rektor Universitas Labuhanbatu sekaligus Alumni UTHM Malaysia, memaparkan bagaimana musik Melayu dan pop Malaysia pada era 80 hingga 90-an berhasil melampaui batas-batas teritorial politik antarnegara. Beliau menyoroti fenomena sosiologis di mana lirik, cengkok, dan melodi dari karya-karya tersebut sukses menciptakan ikatan emosional (kolektif memori) yang tertanam kuat di bawah alam sadar masyarakat Indonesia hingga hari ini.
Sementara itu, Hansen Teo, selaku Owner ET’45, memperkaya perbincangan dengan perspektifnya mengenai tren industri musik masa lalu. Ia mengajak peserta bernostalgia mengingat masa kejayaan kaset pita dan radio analog. Hansen menceritakan bagaimana lagu-lagu Malaysia pada masanya memonopoli perputaran kaset di berbagai sudut kota, seolah menjadi soundtrack tak terpisahkan dari dinamika kehidupan dan romansa masyarakat kita pada masa itu.
Suasana nostalgia semakin terasa kental dengan hadirnya hiburan live acoustic dari Pabolo Entertainment. Di sela-sela diskusi dan seruputan kopi, alunan lagu-lagu pop Malaysia kenangan sukses membuat para hadirin ikut bernyanyi bersama, membawa memori melintas ke masa lalu.
Kesuksesan edisi perdana yang informatif dan menghibur ini juga tidak lepas dari dukungan penuh YOGIGS selaku Media Partner. Ke depannya, “Serumpun Coffee Talk” diproyeksikan akan menjadi agenda bulanan rutin di Teras Literasi Pascasarjana UIN Sumatera Utara, guna terus menghadirkan topik-topik diskusi segar yang memperluas wawasan kebangsaan dan kebudayaan.

